Nenek Moyang Suku Dayak

Posted: January 17, 2012 in Sejarah Dayak

Sejak lebih dari 1500 tahun yang lalu kehidupan nenek moyang masyarakat Dayak yang datang ke Pulau Kalimantan merupakan masyarakat yang telah memiliki budaya yang tinggi. Namun dalam perkembangan di tanah yang baru (Kalimantan Sekarang) kebudayaan mereka tidak berkembang bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Dalam kurun waktu sebelum “Perdamaian Tumbang Anoi” pada tahun 1984 masyarakat Dayak bermukim berpisah-pisah di perkampungan-perkampungan yang yang tersebar di sepanjang tepi sungai. Sesuai dengan kebutuhannya untuk tempat tinggal di bangun rumah panjang yang disebut “Betang” dan menampung seluruh keluarga yang menjadi warga “Betang” tersebut. Apabila di perkampungan di rasakan sebuah Betang sudah tidak mencukupi , maka atas mufakat bersama dibangun Betang baru. Betang sebagai tempat hunian bersama di wilayah pedalaman Kalimantan, masih bertahan sampai menjelang akhir abad ke XIX.

Berdasarkan laporan para ahli antropologi, sesungguhnya Suku Bangsa Dayak yang mendiami Pulau Kalimanatan (dahulu disebut pulau Borneo) bukan benar-benar penduduk asli. Penduduk asli pulau Borneo yang pertama dengan ciri-ciri physik rambut hitam keriting, kulit hitam, hidung pesek dan tinggi badan rata-rata 120 – 130 cm. Mereka di golongkan ke dalam Suku Bangsa Negrito sebagaimana yang masih terdapat sisa-sisanya dalam kelompok kecil di Malaysia Bagian Utara.

Di Pulau Kalimantan (Borneo) Kelompok Suku Bangsa Negrito ini di duga telah musnah setelah datangnya suku bangsa baru yang ber-imigrasi dari Benua Asia Sebelah Timur yaitu cina.

Menurut para ahli Ethonologi, di Asia pada awal-awal Abad Masehi, pernah terjadi 2 (dua) kali perpindahan bangsa-bangsa. Perpindahan bangsa-bangsa yang pertama terjadi pada abad ke – II yang oleh beberapa ahli disebut proto-melayu dan yang kedua terjadi pada abad ke – IV di sebut Deutero-Melayu.

Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner.

Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan.
Suku Bangsa yang datang dan akhirnya mendiami Pulau Kalimantan (Borneo) sebagian besar datang pada perpindahan bangsa-bangsa yang kedua yaitu abad ke -IV tersebut.

Terjadinya perpindahan bangsa-bangsa tersebut dilakukan untuk menghindar dari kekejaman Suku Bangsa Tar-Tar dari utara yang terjadi sejak jaman Jengis Khan.

Kelompok bangsa-bangsa yang berpindah itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya bangsa baru seperti Bangsa Jepang, Taiwan, Philipina dan sebagian Suku bangsa di Indonesia antara lain Suku bangsa di Manado/Gorontalo/Toraja di Sulawesi; Suku-suku di Riau Kepulauan, Suku Batak/Suku Nias di Sumatera; serta Suku Dayak di Pulau kalimantan (Borneo) kalau demikian timbul pertanyaan :

a. Termasuk Rumpun bangsa manakah orang/Suku Dayak Itu?
b. Dari manakah mereka berasal?
c. Mengapa mereka di sebut orang Dayak ?

Sebagai mana di kemukan sebelumnya, nenek monyang orang/suku Dayak adalah imigran bangsa China dari wulayah pegunungan Yunan di Cina Selatan berbatasan dengan Vietnam sekarang.

Kelompok migran yang masuk wilayah Kalimantan Tengah sekarang dan menjadi nenek moyang bagi sebagian besar orang/suku Dayak di kalimantan Tengah merupakan bagian dari perpindahan bangsa-bangsa ke-2 pada abad ke-IV.
Diduga mereka masuk ke Kalimantan Tengah melalui sedikitnya 3 koridor yaitu:

a. Koridor dari Kalimantan Barat menyusuri sungai Kapuas sehingga akhirnya menyeberangi/melintas Pegunungan Schwaner.
b. Koridor I dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Kutai Barat Sekarang.
c. Koridor II dari kalimantan Timur melalui Kabupaten Paser Sekarang.

Berdasar legenda dan cerita dari para pendahulu. nenek moyang orang/suku Dayak yang mendiami Kalimantan Tengah sama sekali tidak ada kelompok yang masuk di muara-muara sungai di sebelah selatan wilayah Kalimantan tengah yaitu dari Laut Jawa. Seluruhnya masuk kewilayah kalimantan Tengah sekarang adalah melalui bagian Utara dan Timur.
Dalam puisi “TETEK TATUM” disebutkan bahwa nenek moyang orang Dayak berasal dari Kerajaan Langit, diturunkan dengan “Palangka Bulau” di
1). Tatan Puruk Pamatua,
2). Tatan Liang Mangan Puruk Kaminting dan
3). Puruk Kambang Tanah Siang.

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud “Kerajaan Langit” jelas menunjukan kepada kerajaan-kerajaan di Cina pada waktu itu.

Menurut legenda, nenek moyang orang Dayak berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian Selatan di Cina Barat laut berbatasan dengan Vietnam sekarang. Raja tersebut bergelar THA WONG yang berarti Raja Besar. Hal ini disebut-sebut dalam puisi “TETEK TATUM” dengan sedikit perubahan dari THA WONG menjadi “TAHAWONG”. Oleh karena itu tidak mengherankan jikalau di kalangan Suku Dayak ada beberapa keluarga dalam memberikan nama bagi anak laki-laki yang lahir di keluarga yang lahir dikeluarganya dengan nama antara lain; Tahawong, Sahawong, Sawong, Tewong. Siwong.

Salah satu kelompok migran dari THA WONG tersebut masuk ke Kalimantan Tengah sekarang diduga melalui Kalimantan Barat, dengan menyusuri Sungai Kapuas. Dalam pencarian tempat pemukiman baru yang aman akhirnya kelompok tersbut menyeberani Pegunungan Schwaner. Pemukiman pertama diduga dibangun dihulu anak-anak sungai Katingan antara lain hulu Sungai Baraoi anak Sungai Samba yang terkenal dengan nama “DATAH OTAP”. Sehingga saat ini ditempat itu masih terdapat puing – puing Betang yang sangat besar. Betang tersebut pada masanya dipastikan sangat kokoh. Tiang-tiang Betang dibuat dari kayu ulin yang berdiameter antara 60-70 cm. Tiang-tiang betang ini lah diduga dimulai penyebaran kelompok-kelompok kecil kesebagian besar wilayah Kalimantan Tengah.

Salah satu kelompok kecil yang dipimpin oleh “ONGKO KALANGKANG” pindah kearah Timur dan akhirnya menetap di hulu Sungai Kahayan, yaitu di Desa Tumbang Mahuroi sekarang. Warga Suku Dayak Ngaju mengakui bahwa ONGKO KELANGKANG adalah moyang mereka dan merupakan cikal bakal adanya Suku Dayak Ngaju. Dalam Bahasa Ngaju, kata Ongko berarti orang tua, persis sama arti dalam bahasa Cina. Kata kalangkang merupakan pertautan 3 (tiga) kata yaitu : Ka (atau Kho) – Lang dan Kang.

Migrasi Ongko Kalangkang ke hulu Sungai kahayan (Tumbang Mahuroi) disertai oleh 7 (tujuh) keluarga anak-menantunya. Atas kesepakatan bersama, maka ke-7 keluarga anak-menantunya tersebut menyebar mencari tempat-tempat pemukiman baru dengan cara menyisir sungai Kahayan kearah hilir (Selatan). Dengan menggunakan rakit-rakit yang dibuat dari bambu dan kayu, rombongan ke-7 keluarga tersebut melakukan perjalan untuk mencari tempat-tempat pemukiman baru yang cocok.
Dengan demikian di sepanjang Sungai Kahayan akhirnya terbangun 8 (delapan) perkampungan asal yang merupakan kampung generasi pertama, yaitu :

1. Tumbang Mahuroi (Ongko Kelangkang)
2. Tumbang Pajangei (anak laki-laki)
3. Tampang (anak laki-laki)
4. Sepang Simin (anak laki-laki)
5. Bawan (anak perempuan)
6. Pahawan (anak Perempuan)
7. Bukit Rawi (anak perempuan)
8. Pangkoh (anak perempuan)

Yang masih menjadi perdebatan apakah yang dimaksud dengan Dayak? Ini dikarenakan suku-suku yang mendiami Pulau Borneo (Kalimantan) secara umum di sebut Suku Dayak. Yang dimaksud dengan Dayak adalah Sungai. Kata Dayak yang artinya sungai tersebut terdapat pada salah satu anak suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa suku (lokal) di Kalimantan Barat dan Serawak.

Pada awal abad ke – XIX seorang ilmuwan barat sekaligus Missionaris telah melakukan perjalanan panjang selama bertahun-tahun untuk suatu penelitian tentang suku bangsa dan budaya penduduk yang mendiami pulau Borneo. Pada saat itu sungai merupakan satu-satunya prasarana perhubungan dari satu kampung ke kampung lainnya. Disetiap aliran sungai ilmuwan tersebut menyusuri sungai dengan menggunakan perahu yang oleh tenaga upahan dari penduduk setempat. Apabila sampai pada suatu kampung, ia bertanya kepada pengantarnya (guide) tentang nama kampung dan suku bangsa apa yang mendiami tempat itu. namun sampai berakhirnya seluruh perjalanan penelitian tersebut, ternyata bahwa semua suku bangsa yang di temuinya belum mempunyai nama. Oleh karena itulah didalam tulisan akhirnya ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau Borneo diberikannya nama Suku bangsa Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s